Laman

Rabu, 15 Februari 2012

ANALYTIC HIRARCHY PROCESS (AHP)

AHP adalah sebuah metode memecahpermasalahan yang komplek/ rumit dalam situasi yang tidak terstruktur menjadibagian-bagian komponen.Mengatur bagian atau variabel ini menjadi suatu bentuk susunan hierarki,kemudian memberikan nilai numerik untuk penilaian subjektif terhadapkepentingan relatif dari setiap variabel dan mensintesis penilaian untukvariabel mana yang memiliki prioritas tertinggi yang akan mempengaruhipenyelesaian dari situasi tersebut. AHP menggabungkan pertimbangan danpenilaian pribadi dengan cara yang logis dan dipengaruhi imajinasi, pengalaman,dan pengetahuan untuk menyusun hierarki dari suatu masalah yang berdasarkanlogika, intuisi dan juga pengalaman untuk memberikanpertimbangan. AHP merupakan suatu proses mengidentifikasi, mengerti dan memberikanperkiraan interaksi sistem secara keseluruhan [6].
Prosedur dalam menggunakan metode AHP terdiri daribeberapa tahap yaitu:
1.     Menyusun hirarki daripermasalahan yang dihadapi
Penyusunan hirarki yaitu denganmenentukan tujuan yang merupakan sasaran sistem secara keseluruhan pada levelteratas. Level berikutnya terdiri darikriteria-kriteria untuk menilai atau mempertimbangkan alternatif-alternatifyang ada dan menentukan alternatif-alternatif tersebut. Setiap kriteria dapatmemiliki subkriteria dibawahnya dan setiap kriteria dapat memiliki nilaiintensitas masing-masing.
2.     Menentukan prioritaselemen dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.  Membuat perbandinganberpasangan
Langkah pertama dalam menentukanprioritas elemen adalah membuat perbandingan berpasangan, yaitu membandingkanelemen secara berpasangan sesuai kriteria yang di berikan. Untuk perbandinganberpasangan digunakan bentuk matriks. Matriks bersifat sederhana, berkedudukankuat yang menawarkan kerangka untuk memeriksa konsistensi, memperoleh informasitambahan dengan membuat semua perbandingan yang mungkin dan menganalisiskepekaan prioritas secara keseluruhan untuk merubah pertimbangan. Untuk memulaiproses perbandingan berpasangan, dimulai dari level paling atas hirarki untukmemilih kriteria, misalnya C, kemudian dari level dibawahnya diambilelemen-elemen yang akan dibandingkan, misal A1, A2, A3, A4, A5, maka susunanelemen-elemen pada sebuah matrik seperti Tabel 1.
Tabel1. Matrix perbandingan berpasangan
C
A1
A2
A3
A4
A5
A1
1




A2

1



A3


1


A4



1

A5




1

b.  Mengisi matrik perbandingan berpasangan
Untuk mengisi matrik perbandingan berpasangan yaitudengan menggunakan bilangan untuk merepresentasikan kepentingan relatif darisatu elemen terhadap elemen lainnya yang dimaksud dalam bentuk skala dari 1sampai dengan 9. Skala ini mendefinisikan dan menjelaskan nilai 1 sampai 9untuk pertimbangan dalam perbandingan berpasangan elemen pada setiap levelhirarki terhadap suatu kreteria di level yang lebih tinggi.
Apabila suatu elemen dalam matrik dan dibandingkandengan dirinya sendiri, maka diberi nilai 1. Jika i dibanding j mendapatkannilai tertentu, maka j dibanding i merupakan kebalikkannya. Pada tabel 2 memberikandefinisi dan penjelasan skala kuantitatif 1 sampai dengan 9 untuk menilai tingkat kepentingansuatu elemen dengan elemen lainnya.

Tabel 2. Skala kuantitatif dalamsistem pendukung keputusan
Intensitas
Kepentingan
Definisi
Penjelasan
1
Kedua elemen sama pentingnya
Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan
3
Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lainnya
Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya
5
Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen yang lainnya
Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya
7
Satu elemen jelas lebih mutlak penting dari pada elemen yang lainnya
Satu elemen yang kuat di sokong dan dominan terlihat dalam praktek
9
Satu elemen mutlak penting dari pada elemen yang lainnya
Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2, 4, 6, 8
Nilai-nilai antara 2 nilai pertimbangan yang berdekatan
Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara 2 pilihan
Kebalikkan
Jika aktifitas i mendapat satu angka dibanding aktifitas j, maka j mempunyai nilai kebalikkannya dibanding dengan i

c.   Sintesis
Pertimbangan-pertimbanganterhadap perbandingan berpasangan di sintesis untuk memperoleh keseluruhanprioritasdengan langkah-langkah sebagai berikut:
-  Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
-  Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yangbersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.
-  Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap matriks danmembaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata.
-   Mengukur konsistensi
Dalam pembuat keputusan, penting untuk mengetahuiseberapa baik konsistensi yang ada, karena kita tidak ingin keputusanberdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Karena dengan konsistensi yangrendah, pertimbangan akan tampak sebagai sesuatu yang acak dan tidak akurat.Konsistensi penting untuk mendapatkan hasil yang valid dalam dunia nyata. AHPmengukur konsistensi pertimbangan dengan rasio konsistensi (consistency ratio). Nilai Konsistensirasio harus kurang dari 5% untuk matriks 3x3, 9% untuk matriks 4x4 dan 10%untuk matriks yang lebih besar. Jika lebih dari rasio dari batas tersebut makanilai perbandingan matriks di lakukan kembali. Langkah-langkah menghitung nilairasio konsistensi yaitu:
i.      Mengkalikan nilai pada kolom pertama dengan prioritasrelatif elemen pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemenkedua, dan seterusnya.
ii.     Menjumlahkan setiapbaris.
iii.    Hasil dari penjumlahan baris dibagikan denganelemen prioritas relatif yang bersangkutan.
iv.   Membagi hasil diatas denganbanyak elemen yang ada, hasilnya disebut eigen value (lmax).
v.     Menghitung indeks konsistensi (consistency index) dengan rumus :
CI = (lmax-n)/n
Dimana     CI        : ConsistensiIndex
                   lmax    : Eigen Value
                   n          : Banyak elemen
vi.   Menghitung konsistensi ratio (CR)dengan rumus:
CR=CI/RC
Dimana :   CR      : ConsistencyRatio
                   CI       :Consistency Index
                   RC      :Random Consistency
Matriks random dengan skala penilaian 1 sampai 9beserta kebalikkannya sebagai randomconsistency (RC).
Berdasarkanperhitungan saaty dengan menggunakan500 sampel, jika pertimbangan memilih secara acak dari skala 1/9, 1/8, … , 1,2, … , 9 akan diperoleh rata-rata konsistensi untuk matriks yang berbedaseperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai rata-rata konsistensi
Ukuran Matriks
Konsistensi acak
(Random Consistency)
1
0,00
2
0,00
3
0,58
4
0,90
5
1,12
6
1,24
7
1,32
8
1,41
9
1,45
10
1,49

Tidak ada komentar: